Keluarga di zaman nabi

Mengambil Uang Dari Suami Yang Kikir

diriwayatkan dari Aisyah ra. : Hindun, ibu Muawiyah, berkata kepada Rasulullah Saw, “Abu Sufyan (suaminya) adalah orang kikir. bolehkah aku mengambil uangnya secara sembunyi-sembunyi?” Nabi Muhammad Saw bersabda kepadanya, “kamu dan anak-anakmu boleh mengambil apa yang cukup, adil dan masuk akal.”

Rahasia Banyak Rejeki dan Umur Panjang

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. : aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “siapa pun yang ingin memperbanyak rejekinya dan berumur panjang, harus bersilaturahim dengan sanak kerabat”.

Sedekah Kepada Keluarga dan Kerabat

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri ra : suatu ketika pada hari raya Rasulullah Saw pergi ke Mushalla (ruang atau lapangan yang difungsikan sebagai tempat shalat). Kemudian Nabi Muhammad Saw pulang, ketika Nabi Muhammad Saw sampai di rumahnya , Zainab, istri Ibn Mas’ud meminta izin untuk masuk. Ia berkata, “ya Rasulullah, inilah Zainab”. Nabi Muhammad Saw bertanya,”Zainab yang mana?” ia menjawab bahwa ia istri Ibn Mas’ud. Nabi Muhammad Saw bersabda,”baiklah, silakan masuk”. Ia pun masuk dan berkata, “ya Rasulullah, hari ini anda memerintahkan kami untuk mengeluarkan sedekah dan aku memiliki sebuah perhiasan yang kuniatkan akan kuberikan sebagai sedekah tetapi Ibn Mas’ud berkata bahwa ia dan anak-anaknya lebih berhak mendapatkannya ketimbang orang lain.” Nabi Muhammad Saw bersabda, “apa yang dikatakan Ibn Mas’ud benar. Suami dan anak-anak mu lebih berhak memperolehnya daripada orang lain”.

Anak Perempuan Sebagai Perisai Api Neraka

Diriwayatkan dari Aisyah ra. : seorang ibu bersama dua orang anak perempuannya menemuiku untuk meminta (sedekah), namun ia tidak menemukan apa pun padaku kecuali sebuah kurma yang kuberikan kepadanya dan ia bagi dua untuk anak-anaknya, sedangkan ia sendiri tidak memakannya, setelah itu ia pun bangun dan pergi. Kemudian Nabi Muhammad Saw menemuiku dan kuberitahukan kejadian itu kepadanya. Nabi Muhammad Saw bersabda, “siapa pun yang diuji dengan anak-anak perempuannya dan ia menyenangkan mereka dengan kebajikan maka anak-anak perempuannya akan menjadi perisai mereka dari api neraka”.

Pahala Sedekah Untuk Yang Meninggal

Diriwayatkan dari Aisyah ra. : seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad Saw, “ibuku meninggal tiba-tiba dan aku berpikir jika ia masih hidup ia akan memberikan sedekah. Apabila sekarang aku akan memberikan sedekah atas namanya, apakah ia akan memperoleh pahala?” Nabi Muhammad Saw memberikan jawaban yang membenarkan.

Setiap Anak Terlahir Dalam Keadaan Fitrah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” kemudian Abu Hurairah membacakan ayat-ayat suci ini: (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Hukum-hukum) ciptaan Allah tidak dapat diubah. Itulah agama yang benar. Tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui (QS Ar Rum [30]:30)

Keutamaan Sabar Dalam Menghadapi Kematian Anak

Diriwayatkan dari Anas (bin Malik) ra. : salah seorang anak Abu Thalhah sakit dan meninggal dunia. Pada saat itu Abu Thalhah sedang tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat anaknya telah meninggal, ia mengurusnya (memandikan dan mengkafaninya) dan membaringkannya di sebuah tempat di rumahnya. Ketika Abu Thalhah tiba, ia bertanya, “bagaimana si buyung?” istrinya menjawab, “ia telah tenang dan aku berharap ia menemukan kedamaian”. (Abu Thalhah) melewatkan malam itu dan pagi harinya ia pun mandi. Ketika ia bersiap untuk pergi, istrinya memberitahu dia bahwa anaknya telah meninggal. Abu Thalhah shalat subuh bersama Rasulullah Saw dan memberitahu apa yang terjadi pada mereka berdua. Rasulullah Saw bersabda, “semoga Allah memberi barakah pada malam kalian berdua”. (Sufyan berkata) bahwa seorang lelaki dari suku Anshar berkata, “mereka (Abu Thalhah dan istrinya) dikaruniai sembilan anak laki-laki dan semuanya hafal Al Quran”. \

Memberikan Harta Waris Yang Cukup Untuk Ahli Waris

Diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash ra. : pada tahun Haji penghabisan (wada’) Nabi Muhammad Saw, aku mengalami sakit parah dan Nabi Muhammad Saw mengunjungiku seraya mendoakan kesehatanku. Aku berkata kepada Nabi Muhammad Saw, “aku lemah karena sakitku yang parah ini padahal aku kaya dan aku tidak punya ahli waris kecuali seorang anak perempuan. Haruskah aku menyedekahkan 2/3 kekayaanku?”
Nabi Muhammad Saw bersabda, “tidak”. Aku berkata, “setengah?” Nabi Muhammad Saw bersabda, “tidak”. Kemudian Nabi Muhammad Saw bersabda, “1/3. bahkan 1/3 telah cukup banyak. Lebih baik kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, mengemis kepada orang lain. Kau akan memperoleh pahala dari sedekah yang dikeluarkan dengan niat karena Allah, bahkan untuk yang kau suapkan dalam mulut istrimu”.
Aku berkata, “ya Rasulullah, apakah aku akan sendirian ketika para sahabatku telah pergi?”. Nabi Muhammad Saw bersabda, “jika kamu ditinggalkan, apapun yang kau kerjakan akan mengangkatmu ke tempat yang tinggi. Dan mungkin saja kau akan berumur panjang hingga (datang suatu saat ketika) sebagian orang mengambil keuntungan darimu dan sebagian yang lain mengambil kemudaratan darimu. Ya Allah, lengkapkan hijrah para sahabatku dan jangan biarkan mereka berpaling”.
Dan Rasulullah Saw merasa sedih dengan meninggalnya Sa’d bin Khaulah yang miskin di Makkah. (sedangkan sepeninggal Nabi Muhammad Saw, Sa’d bin Abi Waqqash hidup dengan umur yang panjang).

Menghormati Pembantu

Diriwayatkan dari Abu Dzar r.a. : aku mencerca seseorang dengan memanggil ibunya dengan sapaan yang buruk. Nabi Muhammad Saw. Bersabda kepada ku,”Wahai Abu Dzar! Apakah kau mencaci maki seseorang dengan menyeru ibunya dengan sapaan yang buruk? Dalam dirimu masih tertinggal sifat-sifat jahiliyah. Pembantu-pembantumu (budak-budakmu) adalah juga saudara-saudaramu (seiman) dan Allah menempatkan mereka di bawah perintahmu. Jadi siapapun yang saudaranya dibawah perintahnya harus diberi makanan yang sama dengan yang ia makan dan diberi pakaian yang sama dengan yang ia pakai. Jangan suruh mereka mengerjakan pekerjaan diluar kemampuannya dan apabila kamu terpaksa melakukannya, bantulah mereka.”

Kafir Terhadap Suami

Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a. : Nabi Muhammad Saw. Pernah bersabda, “Neraka diperlihatkan kepadaku dan sebagian besar penghuninya adalah perempuan kafir”. Ada seseorang yang bertanya,”apakah mereka kafir terhadap Allah (atau apakah mereka tidak bersyukur kepada Allah)?” Nabi Muhammad Saw. Menjawab, “mereka kafir (tidak berterima kasih) kepada suaminya, dan (kafir atas) perbuatan baik yang dilakukan oleh suaminya. Seandainya masa tertentu kalian selalu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka dan kemudian ia melihat sesuatu dalam dirimu (yang tidak disukainya), ia akan berkata,”kau sama sekali tidak pernah berbuat baik kepadaku.”

Senja di akhir masa

sejak kau pergi aku selalu menanti keberadaanmu kembali, sampai detik ini aku akan selalu ada disini

aku rela hari-hari diselimuti mimpi-mimpi..bahkan mimpi-mimpi itu kinilah yang lebih menyiksa melebihi siksaanmu

yang pernah ada…

asmara…kenapa harus dirasa jika tiada waktu untuk menemukannya…

kegalauan ini semakin terasa sudah…

kebimbangan ikut hinggap dalam jiwa yang makin terguncang..

dimana perasaanmu,perasaan halus lembutmu yang dulu kau tawarkan padaku…

waktu telah merubah segalanya

tiada lagi kedamaian yang kurasa..

takkan ada lagi,punah bersama mimpi disiang hari

kini aku menjadi rafflesia java, seperti bangkai yang dianggap tak berguna

entah sampai kapan kurasakan trauma ini

mungkin sampai kutemui senja di akhir masa

nasihat orang soleh

Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan..
Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan..
(QS. An-Nahl 16:1)

Ketika putus asa haram bilang Ingin Mati.. !!!
INGAT.. !!! Jangan suka ceplas Ceplos…
Gara – gara galau di tinggal pacar aja lupa sama ALLAH..

Dia telah menciptakan manusia dari air mani, tiba-tiba ia menjadi
pembantah yang
nyata..
(QS. An-Nahl 16:4)

Astagfirullah, dialah yang berhak menghidupkan & mematikan..
Apa yang ia tetapkan maka itulah yang harus kita Imani…

Khalaqal ‘insana (Dia menciptakan manusia)..
Dia menciptakan keturunan Adam..
Ditafsirkan demikian sebab Adam tidak diciptakan dari air mani, melainkan dari tanah dan Hawa diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri Adam..
Min nuthfatin (dari air mani)..
An-nutfah berarti air mani laki-laki..
Fa ‘idza huwa (tiba-tiba dia), yakni manusia, setelah dia diciptakan..
Fa pada penggalan ini menunjukkan bahwa manusia cepat lupa terhadap permulaan kejadian mereka..
Khashimun (pembantah), yakni yang sangat keji permusuhannya dan sangat keras perbantahannya..
Mubinun (yang nyata), yang mencari-cari dalih..

Inilah ayat bukti bahwa manusia suka mencari-cari dalih pemikiran mereka sendiri..
Contohnya :
” Banyak Sekali sahabat muslimah kita yang enggan menutup aurat dengan dalih yang penting hatinya, naudzubillah min dzalik..
Padahal telah jelas seseorang yang belum menutu auratnya dengan benar maka semua amalan ibadahnya tertolak, hanya sebagai kesia-siaan, karena yang wajib 1 ini saja belum mereka laksananakan..

” Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi ”
(Al-Maidah ayat 5)

Naudzubillah Min Dzalik.. wa’ Astagfirullah Hal Adzim.

Tipe wanita yang sunah di lamar

Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yangbaik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

 

Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala,

 

“Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34). 

 

Tipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar

 

Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:

 

1. Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.

 

Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta’ala,

 

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).

 

2. Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.

 

Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman,Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’. (al-Furqan:74).

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa’I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.

 

3. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kiab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,

 

Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,”Seorang janda.”Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.

 

Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujian pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.

 

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,

 

Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.

 

Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami’ ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, “Hadits ini shahih.”

 

4. Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi’I pernah mengatakan, “Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya piker yang lemah.”

 

5. Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

 

Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).

 

6. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

 

Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala,

 

“Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34).

 

Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,”Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah).

 

7. Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.

 

Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.

 

Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.

 

Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.

 

——–Sumber: Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar

 

Aurat wanita

Banyak pertanyaan dari kaum hawa tentang hal ini. “Kenapa pria mencintai hanya karena nafsu?” Jawabanya sederhana.

1. Karena Wanita slalu mengumbar AURAT nya.

2. Memilih berdandan seksi didpan Pria.

jadi jangan salahkan Pria juga bila Pria mendekatimu karena nafsu. “Memang susah bila harus menutup AURAT”. Dengan banyak Alasan: Panas, Ribet , g gaul , culun dlsbgnya.. banyak orang berkata..Sebenarnya emg wanita punya Hak untuk tidak menutup AURAT nya.. Tapi bagi wanita yang memegang Hak itu, jgan Pernah bertanya “Kenapa pria hanya mendekat untuk melampiaskan Nafsu.?” Harusnya wanita punya Pedoman, “LEBIH BAIK GERAH DI DUNIA DARI PADA GERAH DI AKHIRAT”. Wanita : Tapi aku belum siap.. Jawabanya : Apakah harus nunggu kain kafan yang menutupi AURAT mu? Gimana .., Setuju?

Nasihat

Bissmilahirrohmanirrohim..

Kenapa ALLAH Tidak Memberikan Hidayah Kepada Beberapa Bagian Orang, Karena Mereka Masih Menutup Dirinya Dengan Statement-Statement Mereka Sendiri..
Mereka kuat mempertahankan pendapat mereka sendiri..
Dan kadangkala salah mengartikan ayat-ayat ALLAH tentang apapun amal perbuatan mereka walau sebutir pasir pasti di catat oleh malaikat ALLAH..
Apakah kita hanya mengandalkan amal-amal kecil ini?,

Padahal Hukum ALLAH Sudah Jelas..
Yang Haram adalah Haram..
Yang Halal Adalah Halal..
Yang Dosa Tetaplah Dosa..

Yang ingin mendapat hidayah harus rela di hina, di telantarkan, di tinggalkan, bahkan di bilang kampungan..
Karena orang-orang yang beriman hanya akan menjadi orang yang menutup diri dari dunia dan fokus pada Akhirat..
Menjadi bagian orang minoritas..

Mencobalah berubah untuk diri sendiri, bukan berubah karena orang lain, walaupun tanah kubur kita sendiri-sendiri..
Tetapi masalah mengingatkan dalam kebaikan adalah wajib bagi sesama muslim..

[[ Akhi M.A.F ]]

6 BATAS-BATAS ATAU ADAB YANG PERLU DI JAGA

Bismillaahirrohmaanirro hiim….
AssalaamuA`laikum warohmatullaahi wabarokaatuh,

SAHABAT DAN ANAK-ANAKKU FILLAAH SEKALIAN…

Rasa Cinta adalah fitrah yang diberikan Allaah subhaanahu wata`ala bagi Hamba-hamba-Nya,

Sebagaimana dalam firman-Nya yang bermaksud:

*Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah.. Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa KASIH dan SAYANG. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir*.
(Surah Ar-Rum: 21)

Allaah telah menjadikan rasa cinta dalam diri manusia baik pada Laki-laki maupun Perempuan.
Dengan adanya rasa cinta, manusia dapat hidup
berpasang-pasangan.
Adanya pernikahan itu, tentu ianya harus didahului rasa cinta. Seandainya tidak ada cinta, pasti tidak ada orang yang mau membangun Rumah Tangga.
Seperti halnya Haiwan, mereka memiliki instink seksualiti, Akan tetapi tidak memiliki rasa cinta, sehingga setiap kali boleh berganti pasangannya….
Haiwan tidak membangunkan Rumah Tangga.

Menyatakan cinta sebagai kejujuran hati tidak bertentangan dengan Syariat Islam. Karena tidak ada satu pun ayat atau hadits yang secara eksplisit atau implisit melarangnya.

Akan Tetapi, Islam Telah memberikan batasan-batasan antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam hubungan antara Pasangan laki-laki dan perempuan yang bukan Suami Isteri.

Di antara batasan-batasan tersebut ialah:

1. Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada ZINA,

Allaah subhaanahu wata`al berfirman,
Maksudnya:
*Dan janganlah kamu mendekati ZINA: sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang Keji dan suatu Jalan yang Buruk.*
(Surah Al-Isra: 32)

Maksud Ayat ini, janganlah kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menjerumuskan kamu pada perbuatan ZINA tersebut.

Di antara perbuatan tersebut ialah, Seperti BERDUA-DUAAN dengan lawan jenis ditempat yang SUNYI & SEPI, BERSENTUHAN, termasuk
BERPEGANGGAN TANGAN, BERCIUM ( Bercumbu), dan lain sebagainya.

2. Tidak Menyentuh antara LELAKI & PEREMPUAN yang bukan mahramnya,

Rosuulullaahi shollallaahu a`laihi wasallam bersabda, Maksudnya:
*Lebih baik memegang besi yang panas
daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan Isterinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya). “

3. Tidak berduaan antara LELAKI & PEREMPUAN yang bukan mahramnya,

Dilarang lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk berdua-duan.

Nabi shollallaahu a`laihi wasallam bersabda, Maksudnya:

*Barangsiapa beriman kepada Allaah dan hari Akhir,
maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak ada mahramnya, karena yang ketiganya adalah Syaitan.”
(HR. Ahmad)

4. Harus menjaga Mata atau Pandangan,
Sebab mata kuncinya Hati.
Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan ZINA.

Oleh karena itu Allaah berfirman,
Maksudnya:
*Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka
memalingkan pandangan (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka…..Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka…”
(Surah An-Nur: 30-31)

Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, Tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan jenis yang penuh dengan GELORA NAFSU.

5. Menutup Aurot

Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurot, dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk Suaminya.

Dalam hadits dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan Lekuk Tubuh, memakai minyak wangi yang baunya semerbak, memakai “make up” dan sebagainya, Maka Setiap langkahnya itu, dikutuk oleh para MALAIKAT, dan setiap laki-laki yang memandangnya, sama dengan berzina dengannya. Di hari Kiamat nanti
perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya Syurga (apa lagi masuk surga)

Selagi batasan di atas tidak dilanggar, maka pacaran hukumnya boleh.

Tetapi persoalannya mungkinkah pacaran TANPA Berpandang-Pandangan,
Berpegangan, Bercanda ria, Berciuman, dan lain sebagainya.

Kalau dapat menjaga Segala Batasan itu, Maka silakanlah berpacaran,
Akn tetapi kalau tidak dapat Menjaganya, maka jangan
sekali-kali berpacaran, Kerna Azab yang pedih Sedia menanti bagi Orang yang Melanggarnya…

WALLAAHUA`LAM…BISSHOWAB…Yang baik semuanya Untuk Allaah… dan mana ada kesalahan dan kesilapan pada tulisan itu adalah dari Sifat Kelemahan saya sendiri sebagai Makhluk-NYA…. Hanya Kepada-NYAlah akan saya memohon Keampunan dengan sepenuhnya.. Insya Allaah… aamiin…

SILAKAN DITAG/SHARE BUAT TEMAN-TEMAN SEMOGA BERMANFAAT, INSYA ALLAAH…. AMIIN…

WABILLAAHI TAUFIQ WAL HIDAYAH, WASSALAAMU A`LAIKUM WAROHMATULLAAHI WABAROKAATUH,

by ustd musa ali.